A. Definisi Contextual Teaching
Learning (CTL)
CTL adalah sebuah sistem yang
menyeluruh. CTL terdiri dari bagian-bagian yang saling terhubung. Jika
bagian-bagian ini terjalin satu sama lain,
maka akan dihasilkan pengaruh yang melebihi hasil yang diberikan bagian-bagiannya
secara terpisah. CTL membuat siswa mampu menghubungkan isi dari subjek-subjek
akademik dengan konteks kehidupan keseharian mereka untuk menemukan makna.
Tujuan utama CTL adalah membantu
para siswa dengan cara yang tepat untuk mengaitkan makna pada
pelajaran-pelajaran akademik mereka. Ketika para siswa menemukan makna di dalam
pelajaran mereka, mereka akan belajar dan ingat apa yang mereka pelajari.
Contextual Teaching Learning
(CTL) adalah suatu strategi pembelajaran yang menekankan kepada proses
keterlibatan siswa secara penuh untuk dapat menemukan materi yang dipelajari
dan menghubungkannya dengan situasi kehidupan nyata sehingga mendorong siswa
untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan mereka. Strategi pembelajaran
konstekstual merupakan strategi pembelajaran yang tepat untuk membantu
menciptakan yang lebih nyata dan bermakna bagi anak usia dini. Strategi
pembelajaran kontekstual atau yang lebih dikenal dengan bahasa asingnya
Contextual Teaching Learning (CTL).
Menurut Wina Sanjaya, ada tiga
hal yang harus kita pahami dalam konsep strategi pembelajaran kontekstual atau contextual teaching learning
(CTL). Pertama, CTL menekankan
kepada proses keterlibatan siswa untuk menemukan materi, artinya proses belajar
diorientasikan pada proses pengalaman secara langsung. Proses belajar dalam
konteks CTL tidak mengharapkan agar siswa hanya menerima pelajaran, akan tetapi
proses mencari dan menemukan sendiri materi pelajaran.
Kedua, CTL mendorong agar siswa dapat menemukan hubungan antara
materi yang dipelajari dengan situasi kehidupan nyata, artinya siswa dituntut
untuk dapat menangkap hubungan antara pengalaman belajar di sekolah dengan
kehidupan nyata. Ketiga, CTL mendorong siswa untuk dapat menerapkannya dalam
kehidupan, artinya CTL bukan hanya mengharapkan siswa dapat memahami materi yang
dipelajarinya, akan tetapi bagaimana materi pelajaran itu dapat mewarnai
perilakunya dalam kehidupan sehari-hari.
B. Asas-asas CTL
Menurut Wina Sanjaya, CTL sebagai
suatu pendekatan pembelajaran memiliki 7 asas. Asas-asas ini yang melandasi
pelaksanaan proses pembelajaran dengan menggunakan pendekatan CTL, sebagai
berikut:
1. Konstruktivisme
Proses membangun atau menyusun
pengetahuan baru dalam struktur kognitif siswa berdasarkan pengalaman.
2. Inkuiri
Proses berpikir secara
sistematis, pencarian dan penemuan pengetahuan. Secara umum proses inkuiri
dapat dilakukan melalui beberapa langkah, yaitu:
(a) merumuskan masalah;
(b) mengajukan hipotesis;
(c) mengumpulkan data;
(d) menguji hipotesis berdasarkan data yang ditemukan;
(e) membuat kesimpulan.
3. Bertanya dan
menjawab
Proses menggali informasi tentang
kemampuan siswa terkait dengan materi yang akan diberikan, membangkitkan
motivasi siswa, merangsang keingintahuan siswa terhadap sesuatu, dan membimbing
siswa untuk menemukan atau menyimpulkan sesuatu.
4. Masyarakat Belajar
(Learning Community)
Konsep masyarakat belajar
(learning community) dalam CTL menyarankan agar hasil pembelajaran diperoleh
melalui kerja sama dengan orang lain.
5. Pemodelan
Proses pembelajaran dengan
memperagakan sesuatu sebagai contoh yang dapat ditiru oleh setiap siswa.
6. Refleksi
Proses pengendapan pengalaman
yang telah dipelajari yang dilakukan dengan cara mengurutkan kembali
kejadian-kejadian atau peristiwa pembelajaran yang telah dilaluinya.
7. Penilaian
Proses yang dilakukan guru untuk
mengumpulkan informasi tentang perkembangan belajar yang dilakukan siswa.
C. Delapan Komponen CTL
Menurut Elaine B. Johnson, dalam penerapan CTL mencakup
delapan komponen sebagai berikut ini:
1. Membuat keterkaitan-keterkaitan yang bermakna
2. Melakukan pekerjaan yang berarti
3. Melakukan pembelajaran yang diatur sendiri
4. Bekerja sama
5. Berpikir kritis dan kreatif
6. Membantu individu untuk tumbuh dan berkembang
7. Mencapai standar yang tinggi
8. Menggunakan penilaian autentik
Apabila kedelapan komponen CTL di
atas benar-benar diterapkan oleh guru untuk proses belajar mengajar pada anak
didiknya, maka pembeajaran bukanlah hal yang membebani anak lagi, dan guru pun
hanya berfungsi sebagai fasilitator, motivator, dan mediator untuk menggali
seluruh potensi anak.
D. Kelebihan dan Kelemahan CTL
- CTL adalah model pembelajaran yang menekankan aktivitas
siswa secara penuh, baik fisik maupun mental.
- CTL memandang bahwa belajar bukan menghafal, tetapi
proses berpengalaman dalam kehidupan nyata.
- Kelas dalam pembelajaran CTL bukan sebagai tempat untuk
memperoleh informasi, akan tetapi sebagai tempat untuk menguji data hasil
temuan mereka di lapangan.
- Materi pelajaran ditemukan oleh siswa sendiri, bukan hasil
pemberian dari orang lain.
Kekurangan CTL
- Guru harus lebih kreatif dan memiliki wawasan keilmuan
konsep dasar pendidikan anak usia dini yang mumpuni. Dalam hal ini, guru harus
selalu melakukan: (a) merencanakan pembelajaran sesuai dengan kewajaran
perkembangan mental siswa. (b) Membuat grup belajar yang saling bergantung. (c) Mempertimbangkan
keragaman siswa.
- Karena CTL merupakan pembelajaran yang menekankan pada
aktivitas siswa secara penuh, baik fisik maupun mental, maka sarana prasarana
harus mendukung pembelajaran mandiri. Untuk sekolah yang kurang memenuhi
standar sarana prasarana yang lengkap, maka CTL akan kurang bermakna.
- Menggunakan ragam teknik-teknik pembelajaran.
- Guru harus handal dalam menerapkan penilaian autentik.



